Sate Kuntilanak

Anda pikir kuntilanak, demit, pocong dan sebangsanya makan kemenyan atau kembang tujuh rupa? Salah. Mereka lebih suka sate.

Gak percaya? Coba cari di tivi, ada gak kuntilanak yang minta-minta kemenyan atau kembang? Yang ada malah, “Bang, satenya Bang. Yang gosongnya seperti saya ya.”

Saya juga heran, kenapa kuntilanak datang ke dunia manusia hanya untuk mencari makanan. Mengapa dia tidak mencari rumahnya biar bisa ditempati, atau mobilnya biar bisa pelesir ke Raja Ampat, atau HP-nya biar bisa belanja online?

Mungkin benar kata orang-orang pinter itu. Kalau ingin menguasai dunia, maka kuasailah sumber-sumber energi dan makanan. Khusus makanan, menilik seleranya kuntilanak, sepertinya masakan Indonesia punya prospek besar menembus pasar dunia. Dunia nyata dan dunia maya.

Diantara hajat hidup manusia, urusan makan memang tidak bisa ditunda. Sama seperti orang buang air. Coba aja lihat orang yang lagi kebelet. Segala cara dilakukan demi bisa mendapatkan toilet. Lari kesana kemari, teriak-teriak macam orang kesurupan biar yang di dalam cepet keluar, sampai tidak malu lagi ngetok rumah tetangga malam-malam saat toilet di rumah rusak.

Sama dengan orang cari makan. Ada yang bela-belain mengais-ngais sampah, kerja dari Shubuh hingga Shubuh lagi, atau panas-panas bergelut dengan matahari. Yang kurang iman ada yang nyolong dompet orang, bikin proyek gak jelas, hingga korupsi dana haji.

Padahal, apa sih yang dicari dari makanan? Iya betul, keberkahannya.

Apa ya berkah makanan yang didapat dari hasil colongan? Didoakan gak bisa kentut, kapok dah. Ingat, doa orang yang terdzalimi itu mustajab.

Apa ya berkah makanan yang didapat dari hasil korupsi? Awas hati-hati kena stroke. Otak koruptor kebanyakan mikir duitnya mau disembunyikan di mana.

Apa ya berkah makanan yang didapat dari hasil malak orang? Apa bedanya sama kuntilanak, yang bikin orang ketakutan setengah mati? Makanya besok kalau ada yang ketemu kuntilanak, dibilangin pesan online aja biar gak keluyuran.

Yakin, kalau gak berkah, makanan itu hanya enak di mulut aja. Padahal, enaknya di mulut seberapa lama sih. 5 menit, 10 menit, 15 menit? Tidak ada satu jam. Besoknya keluar juga sudah sama bentuknya yang makan tempe atau sate.

Yang berkah, makanan bisa bikin tubuh jadi sehat, kerja jadi produktif, hati jadi tenang gak macam dikejar-kejar debt collector. Pilih mana?

Makanya, kalau cari makan itu yang halal-halal saja. Jangan ambil hak orang, jangan bikin kesel orang, jangan bikin takut orang. Disumpahin jadi kuntilanak, baru tahu rasa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *