Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /www/wwwroot/dapurmami.id/index.php:238) in /www/wwwroot/dapurmami.id/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/counter.php on line 292
Hebatnya Nyinyir-ers - DapurMami

Hebatnya Nyinyir-ers

“Semur jengkol masakan ibuku paling endes. Setiap kali pulang kampung, itu yang kucari.”

Biasa ya dengar seperti itu. Masakan Ibu is the best. Asli, yang seperti itu kadang bikin aku baper. Apalagi pas PMS.

Masalahnya, aku tak punya masakan spesial. Apa yang bisa dibanggakan dari mie rebus dan nasi goreng? Anak kost juga bisa.

Pernah coba bikin masakan yang rada njelimet, ngintip resep di gugel pastinya. Hasilnya, rasanya aneh.

Kadang aku bertanya sendiri, besok kalau anakku besar, masakan apa yang akan dirindukannya? Saat teman-temannya pamer sambel pete atau bothok teri made in ibunya, apa yang bisa dipamerkannya dariku?

Ah, kamu gak mau belajar aja. Ah, dasar pemalas. Ya itu akibatnya jadi wanita karir. Boros, mentang-mentang punya gaji sendiri. Benar-benar gak sayang anak. Sok-sokanatuh. Nanti kamu kena azab loh.

Wadidaw, rasanya pengen nelen garpu. Gak salah, nyinyir-ers Indonesia memang juara. Apalagi soal menghakimi kriteria ibu paling hebat sedunia.

Bukannya aku gak mau belajar. Tapi rasa-rasanya waktuku sudah habis. Aku seorang single parent yang bekerja fulltime. Pulang kerja kan bisa masak? Iya sih, kadang-kadang kalau tenaga masih ada. Weekend kan bisa? Iya, kadang-kadang juga kalau lagi mood.

Tapi loh, emang salah kalau aku lebih banyak pesan makanan via online? Praktis dan hemat waktu. Bagiku sih lebih menyenangkan lihat anakku makan lahap ketimbang mereka makan masakanku sambil nyengir persis orang nahan kencing.

Ah, alasan aja. Hahaha, up to you-lah. Dimana-mana, netijen maha benar. Kurang afdhol kalau gak julid.

Kuakui, aku memang bukan ibu yang sempurna. Tapi salah kalau dianggap aku gak sayang anak gara-gara urusan makanan seperti ini. Ah, sudahlah. Toh, rasa cinta pada anakku tak perlu diumumkan ke dunia agar mereka semua percaya. Aku tak butuh pencitraan. Yang jelas, semua ibu yang normal pasti ingin yang terbaik buat anaknya, bagaimanapun caranya. Itu!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *